REPORTASE BANGKA

Seorang Napi Teroris MH Thamrin Dipindahkan ke Lapas Bukit Semut

05 Desember
21:06 WIB 2017

REPORTASE, Sungailiat - Seorang narapidana teroris bom dikawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada tahun 2016 belum lama ini di pindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Bukit Semut Klas IIB Sungailiat Kabupaten Bangka Bangka Belitung. Muhammad Ridho warga kota Malang Jawa Timur ini merupakan 1 dari 3 narapidana teroris yang divonis 3 tahun kurungan penjara, sementara dua rekannya ipindahkan ke LP Tua Tunu Pangkal Pinang.

Kalapas Lembaga Pemasyarakatan Bukit Semut Klas IIB Sungailiat‎ Faozul Amsori saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut.

"Ada satu orang narapidana teroris aslinya dari Malang kasus bom Thamrin menjalani masa hukumannya di LP Bukit Semut. Sementara untuk dua orang rekannya di LP Tua Tunu Pangkal Pinang," katanya, Selasa (5/12/2017).

Menurut dia, alasan narapidana teroris Muhammad Ridho ditahan di LP Bukit Semut Klas IIB agar yang bersangkutan tidak mengulangi lagi perbuatannya.

"Selain itu, kalau dia yang ditahan bersama rekan rekan lainnya, dikhawatirkan mereka akan mendoktrin warga binaan lainnya dan membuat mereka menjadi kuat. Dan ini merupakan strategi dari pusat dengan membuat mereka di pecah pecah," jelas Faozul Amsori.

Selain itu kata dia, narapidana ini tidak mempunyai akses apapun di Bangka sehingga kemungkinan kecil hal serupa bakal diulangi narapidana tersebut. "Karena dia tidak punya akses di Bangka dan tidak tau medan dan sanak keluarga sehingga membuat dia bleng,"katanya.

Dikatakan dia, narapidana teroris Muhammad Ridho dipindahkan dari Mako Brimob ke LP Bukit Semut sejak 2 bulan yang lalu dan ditempatkan di sel khusus dengan pengawasan khusus oleh pihaknya. "Semenjak dia disini, dia mendapatkan gelar baru yakni bang Tero (bang teroris) oleh warga binaan," tuturnya.

Selama menjadi warga binaan LP Bukit Semut, belum ada yang menjenguk bang Tero ini. "Hanya saja rencananya sanak keluarganya yakni istri pertamanya. Kan narapidana Muhammad Ridho ini memiliki 3 orang istri,"katanya.

Dalam kesehariannya, narapidana Muhammad Ridho enggan bersosialisasi dengan warga binaan lainnya. "Dia tidak bergabung dengan penghuni disini,mulai dari Sholat hingga aktifitas lainnya, dia memilih untuk sendiri,"katanya.

Ditambahkan dia, pihak melakukan pengawasan ekstra terhadap keseharian narapidana tersebut yang dibukukan dalam sebuah catatan. "Apapun aktifitas dia, kita catat karena dia dalam pengawasan khusus,"katanya.

Diketahui, sebelum menjadi seorang teroris, narapidana muhammad Ridho berstatus PNS di kota Malang. Pria yang di sapa bang Tero ini akhirnya memutuskan menjadi seorang teroris sebagai perakit bom dalam sebuah ledakan di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat 2016 yang lalu. (Maulana/Red)

Tags :

-