REPORTASE BANGKA

Dugaan Salah Tranfusi Darah, Bocah 2 Tahun Meninggal Dunia

12 Desember
08:03 WIB 2017

REPORTASE, Pangkalpinang - Diduga golongan darah yang ditransfusi salah, Syahrul Fajri (2) warga Gang Baong, Kelurahan Gabek 2,Kecamatan Gabek meninggal dunia pada 8 Desember 2017 kemarin.

Demikian dikatakan Ibrohim, SH dari Pusat Dukungan Kebijakan Publik (PDKP) di Jalan Stania, Bukit Baru, Pangkalpinang selaku kuasa hukum Syarul dan kedua orangtuanya, kepada harian Senin(11/12/2017).

Dikatakan Ibrohim kejadian bermula ketika Syahrul Fajri mengalami demam panas tinggi, pada 6 Oktober 2017,lalu maka Herman (orang tua Syahrul) membawa Syahrul ke salah satu dokter praktek di Pangkalpinang. "Berdasarkan rekam medis dokter tersebut menyatakan Syarul dirujuk ke RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang", ujar Ibrohim.

Mendapat rujukan, selanjutnya Syahrul dibawa ke IGD - RSUDDH dengan kondisi demam, selama berada di IGD Syahrul mendapatkan pelayanan kesehatan di ruang UGD dan selanjutnya di Rawat Inap."Setelah dilakukan pemeriksaan diperlukan tindakan transfusi darah, dan dokter jaga IGD melakukan pengambilan sample darah Syahrul Fajri dan menugaskan Herman mengambil darah ke PMI dengan golongan darah AB Rhesus+", jelasnya.

Saat di PMI sekitar pukul 22.23, Herman ditanya petugas PMI mengenai permintaan darah, sesuai petunjuk yang ia peroleh dari perawat RSUDDH maka herman menjawab membutuhkan golongan darah AB, dan sekitar pukul 00.00 WIB herman menerima darah AB dari PMI.

Sekitar pukul 00.20 dini hari, ketika akan dilakukan transfuse perawat kembali mengkonfirmasi ulang tentang golongan darah Syahrul adalah AB, Herman dan istrinya menjawab mereka berdua sebagai orangtua adalah bergolongan darah A, namun transfusi golongan darah AB tetap dilakukan.

"Transfusi golongan darah AB ini dilakukan ke esokan harinya tanggal (8/10/2017) 100CC dan selanjutnya 9/10/2017 100CC", tambah Ibrohim.

Setelah menjalani rawat inap selama 4 hari di RSUD Depati Hamzah, Syahrul Fajri dinyatakan dapat pulang oleh dr Budiono Sp.A . Meskipun Herman dan istrinya merasa anaknya SF masih terlihat pucat dan belum pulih.

Selang 2 minggu berada di rumah, kondisi SF terus menangis dan mengalami sesak nafas, bengkak-bengkak dan luka di perut “koreng”. Sehingga akhirnya pada tanggal 21 Oktober 2017 Herman memutuskan membawa SF untuk diperiksa di RSBT - Pangkalpinang

"Klien kami kaget pada saat dilakukan pemeriksaan di RSBT dan laboratorium Produa diketahui golongan darah Syahrul Fajri adalah A Rhesus +, Juga diketahui dari pemeriksaan di RSBT, Syahrul Fajri menderita penyakit leukimia dan mendapat rujukan ke RS Cipto Mangunkusumi", kata Ibrohim.

Pada tanggal 7 Desember 2017, Herman membawa pulang buah hatinya dari perawatan di RSCM. "Kami pulang untuk membahas rencana selanjutnya dengan keluarga besar, sebab pihak dokter RSCM-Jakarta yang menangani penyakit syahrul menyatakan pengobatan anak kami membutuhkan waktu antara 2-5 Tahun", ujar Syahrul.

Terkait vonis sakit leukimia, Herman yang bekerja sebagai pedagang ikan keliling ini membantahnya."Awal masuk RSUD Depati Hamzah diagnosa tidak mengidap penyakit tersebut, ini bisa saja terjadi pada saat tranfusi darah", ujar Herman dengan mata berkaca-kaca.

Syahrul Fajri dinyatakan meninggal pada 8 Desember 2017, sebelumnya Syahrul pada pukul 05.00 sempat mendapat pertolongan medis di RSBT berupa oksigen dan infus, dan selanjutnya di rujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat Provinsi namun dan Syahrul Fajri menghembuskan nafas terakhir di RSUP pada pukul 10.00 wib.

Menanggapi dugaan mall praktik ini, Para Legal senior PDKP Babel Jhon Ganesha akan mengambil langkah-langkah hukum."Ini preseden yang buruk bagi dunia kesehatan di Bangka-Belitung kami (Lawyer dan Para Legal) sudah melaporkan permasalahan ini ke pihak Polda Babel", ujarnya di dampingi Andira, SH.

Terpisah ketika di konfirmasi Direktur RSUD Depati Hamzah dr Syahrizal membantah bahwa telah terjadi salah transfusi darah.

"Petugas kami mengambil sampel darah Syahrul Fajri, karena di RSUD belum tersedia bank darah maka kami bawa ke PMI di PMI dilakukan pemeriksaan dan di tetapkan golongan darah pasien AB, sebelum di transfusi ke tubuh korban kamipun menelfon pihak PMI dan mereka menyatakan golongan darah pasien AB.

Pihaknya merasa bingung terhadap tuduhan yang menyatakan bahwa pihak RSUD melaukan kesalahan prosedur dalam tranfusi darah,karena kami belum memiliki bank darah dan yang melakukan pemeriksaan darah pihak PMI.

"Selama transfusi darah dokter kami selalu mendampingi dan melihat perkembangan kesehatan pasien, tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan Hemoglobin dari 3,7 menjadi 11,9 itu suatu peningkatan dan artinya tubuh pasien menerima transfusi darah ini", pungkasnya. (kentung)

-