REPORTASE BANGKA

​BPOM Pangkalpinang Temukan Takjil Mengandung Perwarna Tekstil

10 Mei
20:46 WIB 2019

Pangkalpinang - Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pangkalpinang memeriksa sampel makanan berbuka puasa atau takjil yang dijual di kawasan Pasar Pagi, Pangkalpinang, Jumat (10 /5)


Pemeriksaan sampel makanan merupakan salah satu bentuk pengawasan BPOM Pangkalpinang terhadap penjualan takjil di Kota Pangkalpinang untuk mencegah penggunaan zat berbahaya dalam kandungan makanan tersebut.


Dikatakan kepala BPOM Pangkalpinang Hermanto, pihaknya sudah melakukan pengawasan sejak Kamis (9/5) dan hari ini, diseluruh Kecamatan di Pangkalpinang.


"Disini kami melakukan test uji cepat dengan repid test kit, kita uji makanan yang dijual untuk mengetahui ada tidaknya kandungan boraks, formalin, metanil yellow dan rhodamin-b," terang Hermanto.


Diterangkan Hermanto, ada 82 sampel makanan yang diambil dari beberapa pedagang yang tersebar dikota Pangkalpinang.


"Kami telah melakukan uji stempel makanan dari seluruh kecamatan, hasilnya 81 sempel makanan aman untuk di konsumsi, dan satu sempel yaitu kue apem mengandung bahan berbahaya rhodamin-b," kata Hermanto.


Terkait hal ini, balai POM sudah ambil tindakan kami sudah melakukan peringatan dan himbauan kepada penjual.


"Karena ini kue yang dijual merupakan titipan, kami akan telusuri pembuat kue dan akan dilakukan peringatan serta himbauan bahwa menggunakan bahan kimia sangat berbahaya bagi kesehatan, apa lagi ini pewarna tekstil atau pewarna kertas," beber Hermanto.


Dirinya juga memberikan himbauan agar para pembuat makanan dan pedagang menjaga ke kebersihan makanan.


"Tidak gunakan bahan kimia, tidak kotor dan tidak di hinggapi lalat," singkat Hermanto


Sementara itu, Walikota Pangkalpinang Maulan Akil bagaimana kita menciptaan rasa aman dan ya an bagi pedagang dan pembeli.


"Kami ingin tidak ada makanan yang mengandung bahan berbahaya, kami akan terus melakukan pengawasan terhadap makanan (Takjil) yang dijual bila ada ditemukan makanan yang mengandung zat kimia berbahaya segera laporkan ke BPOM," tutup Molen. (UNT)

-